Berbahayakah Sakit Amandel Berulang? - Buletinsehat.com
Pengobatan

Berbahayakah Sakit Amandel Berulang?

Buletinsehat.com – Amandel berulang atau dikenal dengan istilah tonsilitis kronis disebabkan oleh sejumlah kuman yang membuat amandel kiri dan amandel kanan mengalami pembesaran sehingga keduanya saling bertemu. Selain disebabkan oleh kuman, amandel yang terjadi berulang bisa juga disebabkan karena gaya hidup yang kurang baik. Misalnya saja kebiasaan merokok, terlampau banyak mengkonsumsi makanan yang berminyak, atau bekerja terlalu berat sehingga kelelahan.

Gejala Amandel Berulang

Sebagian orang mungkin tak menyadari pembengkakan yang terjadi pada amandel ini. Gejala pembengkakan yang terjadi pada amandel kiri dan kanan ini sesungguhnya cukup mudah dikenali. Berikut ini gejala munculnya amandel berulang atau tonsilitis kronis.

• Gangguan Pernafasan

Amandel kanan dan amandel kiri yang mengalami pembengkakan akan membuat saluran penafasan tersumbat atau terhalangnya jalan pernafasan. Sumbatan pada pernafasan ini bisa dirasakan pada tenggorokan. Tenggorokan terasa tidak nyaman seperti ada penghalang yang mengganjal. Jika mulut dibuka lebar-lebar, maka di tenggorokan akan terlihat amandel yang membengkak dan tampak berbenjol-benjol.

• Mengorok

Pembesaran amandel ini juga menyebabkan seseorang mengorok. Mengorok saat tidur ini tak lain disebabkan oleh pernafasan yang terhalang.

• Bau Mulut

Amandel yang membengkak ini juga akan membuat bau mulut atau nafas menjadi tidak enak. Meskipun sudah membersihkan mulut dengan menggosok gigi atau berkumur, bau mulut ini tak kunjung bisa hilang.

• Mulut Terasa Kering

Jika seseorang mengalami sariawan atau panas dalam, maka biasanya mulut akan terasa kering. Keadaan ini juga dirasakan ketika amandel mengalami pembengkakan.

Amandel berulang atau tonsilitis kronis terkadang mudah disembuhkan. Namun kadangkala penyakit ini juga sulit ditaklukkan. Biasanya penderita tonsilitis kronis akan mendapatkan pengobatan terlebih dahulu. Tetapi jika tonsilitis kronis terjadi berulang sebanyak lebih dari tiga kali dalam satu tahun, maka dokter biasanya merekomendasikan untuk melakukan operasi tonsilektomi. Tindakan operasi tonsilektomi juga menjadi pilihan akhir ketika tonsilitis kronis menyebabkan demam dan kejang-kejang.

Seperti halnya operasi bedah lainnya, operasi tonsilektomi juga memiliki resiko yang perlu dipahami oleh penderita tonilitis kronis. Berikut ini dua resiko yang cukup sering terjadi setelah operasi tonsilektomi.

• Pendarahan

Operasi tonsilektomi memang termasuk sebuah operasi kecil. Namun terkadang muncul kekuatiran adanya pendarahan susulan yang bisa saja terjadi. Karena itu, pasien yang sudah melakukan tonsilektomi sebaiknya menjalani rawat inap dan bukan rawat jalan. Rawat inap ini juga akan membantu bila pasien mengalami mual dan tak bisa menelan makanan.

• Keadaan Tidak Nyaman pada Tenggorokan

Setelah operasi dilakukan, pasien operasi tonsilektomi pada umumnya akan merasakan ketidaknyamanan pada tenggorokan selama satu minggu hingga sepuluh hari. Pasien perlu memahami resiko ini agar tidak muncul kepanikan.

Operasi tonsilektomi dikerjakan oleh dokter spesialis THT (Telinga Hidung Tenggorokan). Namun ini termasuk operasi yang kecil tapi tetap membutuhkan keahlian dan peralatan yang mendukung. Operasi tonsilektomi yang dilakukan pada anak-anak umumnya melibatkan juga dokter anak, dokter umum dan dokter spesialis penyakit dalam.

Kesimpulan

Sebagian besar pasien operasi tonsilektomi memang terdiri dari anak-anak. Sebab pada usia ini, anak-anak banyak mengkonsumsi makanan kecil yang banyak mengandung zat pengawet berbahaya. Oleh karena itu para orangtua harus memperhatikan makanan-makanan kecil yang dikonsumsi anak-anak agar tidak memicu terjadinya amandel berulang yang bisa berujung pada operasi tonsilektomi.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button